
pic: Carlo Nicora
Twitter adalah salah satu aspek hidup gw yang paling menyenangkan saat ini. Saking tergila-gilanya sama Twitter, gw punya beberapa account yang gw manfaatin buat maen-maen sama beragam Twitter client. Tweet gw--saat post ini ditulis--mencapai 10 rebu. Gw bahkan tertarik melamar ke perusahaan social media, demi belajar Twitteran, LOL.
Twitter hari ini beda sama Twitter yang gw masuki taon lalu. Mungkin karena makin banyak yang ikut, budaya yang tumplek blek dalam satu wilayah juga makin beragam.
Perkembangan yang gw amati dari Twitter belakangan ini:
Banyak orang yang aslinya pinter, berlagak pinter. Pinter dan berlagak pinter itu beda. Pinter ya berarti otaknya encer, pengetahuan luas, dan jago merangkai kata sehingga tweet-nya menarik. Berlagak pinter ya berarti meremehkan orang laen yang dia rasa nggak sepinter dia. Maka bermunculanlah tweet-tweet reply tanpa mention bernuansa satir.
Di Twitter polisi juga makin banyak. Seakan mereka paling tau aturan dan cara Twitteran. Perasaan dulu pas join Twitter, gw nggak nemu video, demo page, atau screenshot yang ngajarin gimana Twitteran. Harusnya @ev kasih semua polisi Twitter itu hadiah, kaos Twitter kek, karena udah bantu ajarin tweep cara Twitteran yang baek dan bener.
Satu hal yang gw pelajari dari wisdom kuno China: Yang kau benci dari orang lain adalah refleksi dirimu sendiri. Kalau gw ngerasa seseorang kelewat sombong, misalnya, bisa jadi gw kelewat sombong.
Kapan hari wisdom itu terbukti kebenarannya. Pernah gw marah berat sama pacar gara-gara dia ngritik isi tweet gw yang kelewat "bebas". Hlah kok ndilalah beberapa hari lalu gw ngritik dia yang nge-tweet tanpa maksud reply dengan naro @ di awal kalimat. Doh.
Jadi, karena saat ini gw ngerasa kesel sama tweep-tweep yang berlagak pinter dan para polisi Twitter, bisa jadi selama ini gw di Twitter juga melakukan 2 hal itu. Ugly. Ogah ah.
Tepat di saat kesadaran itu muncul, gw inget pelajaran dari admin Gamexeon, @unwinged. Saat itu seorang user yang muda banget mengacak-acak forum dengan junk. Skala parah: bukan cuma satu dua kali, tapi hampir di setiap post!
Mayoritas moderator setuju kasih hukuman. Gw bahkan menyarankan ban. @unwinged bilang, "Dia masih anak sekolah. Kalau dia lari ke Gamexeon tiap hari, ada sesuatu yang terjadi di rumahnya. Mungkin dia ngerasa kurang diperhatikan, makanya cari perhatian di forum. Kalau kita juga menutup aksesnya ke kebutuhan itu, dia bakal lari ke tempat lain. Mungkin malah ke tempat yang nggak tepat."
Gw tersentak. Bertaon-taon gw jadi pejabat tinggi Kafegaul, blom pernah satu kali pun gw mikirin user sebagai manusia. User di mata gw ya warga yang harus nurut sama aturan buatan gw. Kalau nggak suka, cabut aja. Kalau suka, diem. Memang ketika muncul konflik, gw selesaikan dengan diplomatis. Tapi nggak pernah juga mikirin gimana tindakan-tindakan gw di dunia maya itu berdampak ke hidup user di dunia nyata.
Pelajaran kedua datang dari Marketing Chief Officer Kaskus, Mas Danny. Dia tampil sebagai pembicara di FOWAB (Forum Web Anak Bandung) 2 Jumat kemaren. Katanya, user adalah manusia. User harus dihargai setara. "Semua orang adalah juragan," katanya. Somehow gw yakin karena itulah Kaskus jadi forum nomor satu di negeri ini. Catet, gw nggak doyan hangout di Kaskus, karena bagi gw mending melototin baca artikel atau berita atau gambar-gambar menarik ketimbang, "Pertamax, Gan!" Tapi kata-kata Mas Danny itu merombak total mindset gw tentang user. Yang nge-post artikel sepanjang jalur pantura sama berharganya dengan yang nge-post, "Bantu sundul ah."
Twitter boleh dibilang mirip Kaskus. Macem-macem tipe manusia tumplek blek jadi satu. Jelas, potensi konflik gede banget. Cara tiap tweep handle konflik juga beda-beda; ada yang suka terlibat di dalamnya, ada yang lebih suka nonton doang, ada pula yang berharap dunia ini bisa berputar tanpa konflik. Walau kadang ikut terjun dalam konflik tertentu di Twitter, aslinya gw termasuk kelompok terakhir. Tapi sayang, dunia ini penuh konflik. Berharap sebaliknya itu... utopia.
Walau begitu, memberi tiap tweep penghargaan setara nggak susah. Harusnya. Dan bisa dimulai dari gw sendiri. Misalnya:
- Brenti nyebut #bellamy untuk refer ke "pintar" dan #bhagas untuk refer ke "goblok"
- Brenti bersikap sok satir dalam tweet-tweet gw; halah, kalau tiba-tiba dicekoki tes Bahasa Indonesia dengan pertanyaan, "Satir itu apa?" gw juga nggak bakal bisa jawab bener!
- Brenti jadi polisi Twitter; salah satunya ya dengan nggak lagi menghina-dina tweep yang RT buat reply, LOL
- Berusaha memahami mereka yang masih bersikap polisi Twitter sebagai manusia beneran, dengan ati dan perasaan, yang sedang mengalami hilangnya kendali--entah atas diri sendiri, keluarga (kalau dia ternyata kepala keluarga), kariernya, atau bahkan seluruh aspek hidupnya--sehingga butuh melampiaskan itu di Twitter
- Berusaha memahami tweep-tweep yang sering bikin gw eneg, kesel, bad mood lewat tweet-tweet reply tanpa mention-nya sebagai manusia beneran, dengan ati dan perasaan, yang sedang mengalami sesuatu yang nggak menyenangkan di dunia nyata--entah apa, gw bukan psikolog, tapi sesuatu itu ada dan nyata!--sehingga melampiaskannya di Twitter
- Makin intens belajar Twitteran dari tweep-tweep hebat*
Di sisi lain, ogah juga kehilangan jati diri. Bandel. Kreatif. Ceria. Semangat belajar. Semua itu bakal tetap tergambar dalam tweet-tweet gw. Cuma mulai sekarang nggak usah lagi berusaha nyakitin perasaan siapa pun. Yep, ini artinya nggak bakal ada lagi tweet, "Xbox 360 sucks!" Walau masih yakin itu bener, cukup gw simpan dalem ati, hahaha...
*Tweep hebat menurut gw saat ini:
@kapkap --- Ini cewek sadis! Kalau engage di Twitter, dia seakan berprinsip, "Kudu jadi yang terakhir me-reply." Gw jadi ngerasa dia ramah dan sangat menghargai gw. Rupanya itulah cara terbaik Twitteran.
@masova @niwat0ri --- Idem sama @kapkap, bedanya mereka cowok.
@deon --- Ini cowok juga sadis! Pinter programming tapi nggak pernah sombong. Dan sangat genuine. Sedih, gembira, kesel, tergambar jelas di tweet-nya, nggak ada yang ditutupi dengan kepura-puraan.
@budi --- Ini cowok yang selalu bisa bikin gw ngakak. Tapi ya jangan berharap dia bakal serius di Twitter sih.
@alderina --- Orang yang bisa memaki tanpa menyakiti itu langka, dia salah satunya.
@pakzam @lowrobb --- Orang-orang berintegritas yang selalu bisa menyuarakan pikirannya tanpa melibatkan diri dalam konflik. Sssttt, katanya @lowrobb itu dulunya musisi rock ato heavy metal, pokoknya musik gabruks-gedabruks gitu deh. Yang identik dengan violence itu tuh. Nggak nyangka kan!
@icreativelabs --- Prinsipnya, "Tweeting is sharing," dan, "Mikir pas nge-tweet itu investasi, makin banyak mikir, tweet makin bagus, investasi makin menguntungkan."
@capcaibakar --- Jago merangkai kata, kadang curcol juga soal kehidupan rumah tangganya, tapi nggak pernah dia jelek-jelekkan sang suami di Twitter
~ dan lain-lain; ya maap, gw mana bisa inget semuanya, follow 400 orang euy!

10 ocehan lo:
Komentar deh, soalnya masih dingin nih kepala habis bangun tidur :P
Saya akui bahwa setiap tulisan kak Dian menarik sekali untuk saya baca dan saya komentari (ya walaupun saya mengomentari hanya sebatas ada link yang nyangkut, dan saya klik itu, eh asyik juga :D) *halah*
But, saya akui semua pemikiran dan tulisan kak Dian itu memberi motivasi. Menurut perhatian saya, kak Dian kalau ada kesalahan, mau belajar dan introspeksi diri sehingga ilmu introspeksinya bisa
dibaca orang lain dan orang lain bisa belajar dari situ - ya mungkin orang lain itu adalah 'saya' sekarang ini :D
Okay, let's start the comment point.
Dari membaca artikel ini, ada tulisan/kalimat yang langsung menyangkut di kepala saya dan sedikit terharu. Yaitu :
@unwinged bilang, "Dia masih anak sekolah. Kalau dia lari ke Gamexeon tiap hari, ada sesuatu yang terjadi di rumahnya. Mungkin dia ngerasa kurang diperhatikan, makanya cari perhatian di forum. Kalau kita juga menutup aksesnya ke kebutuhan itu, dia bakal lari ke tempat lain. Mungkin malah ke tempat yang nggak tepat."
NAH!. Itu yang membuat saya pagi ini sedikti tersenyum dan terharu. Loh kok bisa? Naf? Ya, because that's me.
Mungkin karena saya sering dimarahi, ataupun 'agak' sering dijauhi oleh teman, dan dikritik habis2-an oleh klien, saya pernah sedikit BRUTAL di Tweet. Mungkin itu tidak terlihat, tetapi saya berusaha untuk menenangkan hati yang waktu itu sedang kesal. Maaf kalau Tweet saya banyak yang tidak bermanfaat :)
This very usefull...
Hayah, terharu gw bacanya. Thanks for sharing, Naf.
Nafi yang masih sangat muda bisa berpikir gitu, jadi malu gw yang sudah renta ini. Gw malah tiap hari "marah-marah" lewat Twitter. *JLEBBB*
Bagian yang paling gw suka sama kayak Nafi.. Gila.. Kog kepikiran ya? *follow @unwinged ah*
Dan iya.. Setuju twitter yg lebih baik bermula dari diri kita yg lebih baik.
Makasih dian sudah diingatkan.
Eh iya dan kata siapa twitt harus berguna, klo kata Budi "ngetwitt aja kog mikir" hihi
Eyaampun Dian :-)
Makasih loh dibilang gitu :p padahal menurut aku masih banyak yang sakit ati sama aku T_T
Anyway, aku juga punya akun alter ego yang terbuka untuk umum dan isinya tweet tanpa @reply. Kenapa? Buat lucu-lucuan aja dan ga mau ga @reply di akun Alderina, sudah kebanyakan yang follow kasian nanti mereka ga paham apa yang lagi aku tweetkan. Akun satunya itu isinya cuma seseruan sama teman-teman.
Aku kagum sama Om Anang! Kata-kata dia bener-bener mencelikkan mataku yang sudah segaris ini. Makasih om Anang.
tentunya makasih dian, sudah share apa yang Anang bilang ke kita semua.
aduh mba musik grasakgrusuk itu ga identik dengan kekerasan... kalo ga percaya tanya @lowrobb pernah ga konser dia rusuh/ada kekerasan...walaupun rusuh bukan karena musiknya... terima kasih
@Pria Mudah Berjanji
Iya, gw tau. Gw juga suka kok musik kaya gitu. Cuma gak bisa dipungkiri juga sih, stereotipnya masih gitu. Tanya aja sama nyokap2 yang keluaran zaman Orde Belanda.
nggak penting asal keren HIDUP INDONESIA!
Yang jelas dimanapun itu, mau online atau real world, tetep berlaku satu paham: You cannot please everybody.
Mau sebaik dan seramah apapun kita, pasti ada aja yang nyari perkara :D
Dan setuju sama neng Dian, tanggepin aja dengan "ya udah lah. Paling lagi ada masalah." Kita ga pernah tau soalnya. Siapa tau salah satu anggota keluarganya lagi sakit, siapa tau lagi kena masalah di kantor/sekolah/kuliah, dan dia ga bisa ngelampiasinnya dengan emosi dingin karena ya namanya juga lagi kena masalah :) Walo kadang kita juga jadi bete juga sih XD Gw juga sering ngrasa bete ngliat tweet-tweet gajebo gitu. Tapi ya udah sih ya, maksimum gw jadi agak sinis, tapi sisanya ya diemin aja. Daripada buang waktu sendiri dan bikin musuh, hihi.
BTW, ngerasa bangga sebangga-bangganya bangga disebut sama neng Dian sebagai salah satu dari tweep hebat XD Aih, Alhamdulillah dianggap sebagai salah seorang tweep hebat, semoga kedepannya jadi lebih baik :) Terima kasih neeeng :D
@suci @alderina @budi
makaciiih... udah mau mampir dan berkomentar!
@retno
gw pan belajar dari situ, huahuahua...
Poskan Komentar